Dari Kelas 8.5 Untuk Para Guru
Setelah dua tahun bersama di satu kelas, kelas 7 dan 8, akhirnya Gagah harus legowo untuk dirolling nanti di kelas 9.
Biasanya memang setiap tahun ada rolling kelas, tapi karena lebih banyak porsi belajar online dari rumah akibat Covid, jadi pihak sekolah memutuskan untuk tidak merolling siswa-siswa kelas 7 yang naik ke kelas 8.
Hanya Wali Kelasnya saja yang diganti. Dari Bu Etty ke Bu Susi.
Bu Susi ini guru BK yang masih muda, masih baru lulus dan sedang proses tes untuk dapat pengukuhan supaya bisa jadi ASN.
Sabaaaar banget ngadepin anak-anak. Ya, secara beliau ini guru BK kan. Udah bisa dipastikan biasa banget ngadepin anak-anak baru gede yang tingkahnya random.
Kayak Gagah. Bisa dibilang, agak tidak biasa segala tingkahnya. Dibilang pendiam, iya juga kalau di lingkungan baru. Tapi kalau sudah kenal dan nyaman, ngocolnya pasti dapet banget.
Belum lagi masalah 'males'nya Gagah untuk ngejar nilai. Kalau ada pengumuman siapa saja yang belum mengumpulkan tugas di grup WA orang tua, nama Gagah nggak pernah absen. Selalu ada tidak pernah tidak. hahahahaha...
Dan di kelas 8 ini, gue kembali didaulat untuk menjadi korlas. Ibu-ibu di kelasnya Gagah masih percaya ke gue untuk jadi perwakilan. Setelah di momen kenaikan kelas 7 ke kelas 8 gue malah absen datang karena harus diopname akibat Demam Berdarah. Maaaapp...
Tapi tahun ini, gue harus dateng. Sudah bertekad penuh untuk mengusahakan segala sesuatunya berjalan dengan lancar.
Seperti biasa, di akhir tahun pelajaran, pasti orang tua akan disibukkan dengan perkara bingkisan untuk wali murid.
Dan seperti biasa saja, yang sudah-sudah, gue dengan sangat senang hati bisa mengumpulkan dan membelikan berbagai macam hadiah untuk para guru ini.
Karena nggak cuma wali kelas aja yang dikasih, guru mata pelajaran juga harus dapet, cuuuy!
Alhamdulillahnya, ibu-ibu di kelasnya Gagah ini nggak ada yang rewel. Bahkan semua cenderung nurut dan pasrah. Yang penting urusan bingkisan ini bisa selesai, bagus dan memuaskan. Tanpa mereka harus repot.
Dan untuk urusan urunan, untungnya mereka juga nggak pada ribet. Jadi ya bisa dengan mudahlah gue mengkoordinasi kelas. hehehehe...
One man show nih ceritanya.
Di akhir tahun ini, Ibu Susi Damayanti, Wali Kelas 8.5 sudah pasti dapat porsi lebih besar kalau urusan bingkisan.
Sepertinya sudah menjadi tradisi bagi para Wali Kelas ini mendapatkan emas, kalau ibu guru akan mendapatkan perhiasan emas. Dan kalau bapak guru mendapatkan logam mulia. Atau ya sesuai dengan kesepakatan deh ya di kelas.
Mari kita berangkat lagi mencari perhiasan emas sesuai budget. Seperti biasa, ke toko langganan di Melawai - Blok M.
Nama tokonya "Singgalang Jaya". Udah jadi langganan sejak gue beli cincin nikah di sana deh pokoknya.
Dan setelah rembukan dalam hati... karena emang cuma gue doang yang pergi ke sana untuk memilih dan belanja.
Jadinya model ini yang dipilih. Eh sama sempet sedikit diskusi di grup dengan mengirimkan foto dan video gelang-gelang yang jadi pilihan ding.
Kenapa gelang? Karena Bu Susi mengenakan hijab. Sudah pasti anting dan kalung dicoret dari list ya. Karena kalaupun dipakai sama Bu Susi, nggak bakalan kelihatan dong ya.
Pilihannya ya udah pasti cincin atau gelang.
Cincin gue ga pilih karena riskan, nggak tau ukuran jarinya Bu Susi dan nggak mau ngira-ngira. Takut ga cukup euuyy.. (pengalaman pribadi gue susaaaaah banget dapet cincin yang ready to wear, harus custom ukuran dulu. Kesel!)
Jadi ya gelang deh pilihan yang menurut gue paling pas untuk bingkisan Bu Susi. Bisa dikira-kira cukup atau nggaknya, budgetnya masuk dan bisa dipamerin hehehehe...
Ada tiga pilihan model yang gue tawarin untuk dipilih juga sama ibu-ibu yang lain. Satu model konvensional, sederhana dan klasik tapi kesannya jadi kurang trendi dan juga kuno kalo menurut gue sih.
Satu lagi modelnya ala-ala Korea gitu, simple tapi manis karena hanya ada satu mata aja.. tapi emas putih. (FYI, belum tentu semua suka dengan emas putih. Dan menurut pengetahuan gue, untuk kulitnya Bu Susi yang Indonesia banget, akan lebih bagus kalau pakai yang emas kuning).
Terakhir ada model yang menurut gue lebih trendi dan cocok banget untuk Bu Susi yang masih muda, kekinian dan ke KPop Kepopan. ....
Alhamdulillah semua sepakat dan harga sesuai dengan budget.. jadi langsung cuz angkut deh.
Pulangnya sempetin mampir ke Dharmawangsa Square dulu. Mampir ke Tulisan untuk beli pouch cantik. Karena pouch dari toko emas.... tau sendiri kaaannnn hahahahaha...
Okeh, markipul deh.
Di rumah, sudah dikumpulkan semua hadiah-hadiah untuk guru mata pelajaran dan juga pastinya souvenir untuk anak-anak sekelas dong aaaah.
Kebetulan sisa uang kas orang tua masih bisa dikaryakan untuk semua itu.
Untuk guru mapel laki-laki, gue pilihan sepaket bingkisan di online. Isinya jam tangan dan dompet kulit sintetis. Keren kan?
Sedangkan untuk para guru perempuan, gue pilih tas tangan dengan material kulit sintetis dan batik yang modelnya cantik-cantik. Pasti pada cantik-cantik nih nanti ibu-ibu guru pakai tas ethnik dari kelas 8.5 yekan?
Oya, untuk Ibu Susi, gue juga minta tolong sama salah satu ibu di kelas, ibunya Ulima Asri untuk membuat bouquet cokelat spesial. Sebagai tanda terima kasih anak-anak di seremonial nanti.
Buat anak-anak... spesial banget! Dan kemudian diikutin oleh banyak kelas, karena korlas-korlasnya dapet bocoran soal souvenir anak kelas 8.5 nih.
Tenaaaang, kelas 8.5 masih tetep menang lebih spesial. Siapa dulu dong korlasnya hahahahahaa *narsis!
Souvenirnya tahun ini, tetap mementingkan personalisasi seperti tahun lalu.
Gue pesen tumbler kekinian dengan warna hitam dan grafiran nama masing-masing anak. Juga diprint logo kelas dan angkatan di SMP mereka.
Kelas lain juga ada yang beli tumbler ini (nitip pesen di gue juga) dengan warna lain. Karena mepet, kebanyakan hanya grafir nama aja.
Kelas 8.5 lebih spesial lagi karena di tumblernya itu juga udah ada iced lemon tea buatan gueeee.. hahahahaha. Seger banget kan tuch pasti siang-siang abis terima raport, deg-degan trus minum es teh. Muantaaaaappp!
Nggak cuma itu, spesial sebagai tanda kasih dari gue... gue bikinin juga masing-masing soft cookies cokelat buat semua.
Semua kebagian... lunas nggak lunas uang kasnya, dengan berbagai alasan. Yang pasti semua penduduk 8.5 kebagian. Termasuk Ibu Susi, sang Wali Kelas.
For the record yaaa....
Sebagai korlas, gue nggak pernah maksa soal setoran uang kas ini. Sesuai kesepakatan aja. Kalaupun ada yang tidak bisa memenuhi uang kas ini, gue ga kemudian menagih seperti orang yang nagih hutang.
Mereka pasti punya alasan kenapa tidak bisa berpartisipasi kan... gue yakin orang tua di kelas 8.5 bijak-bijak semua kok.
Dan buat yang lain, alhamdulillah dan terima kasih banget karena sudah bersedia memberikan 'lebih' untuk menutupi teman-teman yang tidak pol uang kas nya.
Jadi gue merasa tertantang untuk bisa mengolah sisa uang kas itu agar semua merasakan manfaatnya.
Gue juga nggak mau anak-anak yang ga pol uang kasnya kemudian jadi sedih dan minder melihat teman-teman lainnya yang uang kasnya pol, pada dapat bingkisan. Sedih tauuuuuu!
Yang penting, yang utamanya (bingkisan untuk Wali Kelas dan guru Mapel terpenuhi) dan bingkisan untuk anak-anak sebagai souvenir atau tanda mata sebagai warga 8.5 juga bisa dapet.
Seneng banget lihat mereka menikmati bingkisan masing-masing.
Percaya deh, si tumbler ini pasti dibutuhin banget di masa datang. Karena sekolah-sekolah banyak yang pada giat melestarikan alam dengan mengurangi sampah dan tumbler pasti jadi satu hal penting nanti untuk mereka bawa-bawa.
Tumber eks kelas 8.5 spesial banget karena sudah personal dengan nama masing-masing kaaaan...
Pada akhirnya....
Terima kasih sangat Ibu Susi, yang sudah menemani perjalanan anak-anak di kelas 8.5 dengan sangat-sangat berkesan.
Memberikan kehangatan dan bimbingan yang dekat sekali. Komunikatif dengan kami, para orang tua dan sabar banget menghadapi masing-masin anak dengan segala polah lakunya.
Terima kasih.... semoga nanti kelas 9 Gagah juga sama Bu Susi lagi yaaaaa...
Aamiin....
Terima kasih juga untuk para orang tua, terutama Ibu-ibu yang dengan sangat kooperatif saling memberikan dukungan untuk kepentingan pendidikan anak-anak selama dua tahun, kelas 7 dan 8.
Sungguh, menjadi korlas di kelas ini tidak lah berat. Karena semua dengan sangat-sangat manis membantu dan mendukung supaya anak-anak nyaman belajar dan senang.
.jpg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
Post a Comment