ke Kota Tua (I)

Gara-gara sehari sebelumnya, Naya dan Lalo nyobain naik Trans Jakarta ke Pondok Indah Mall, mereka menuntut untuk pergi jauhan naik 'busway'.

Jadilah mereka menuntut ayahnya untuk bisa pergi jalan-jalan ke Kota naik 'busway'. Karena terus terang, pergi naik bis rasanya ga mungkin kalau cuma saya seorang.. hahahaha...

Perginya sich kesiangan, karena takut kalo siang itu panas mentereng jadi pasti lebih capek. Nah, siasatnya adalah kita parkir mobil di Blok M Plaza trus jalan ke halte Trans Jakarta di Blok M Mall. Yah, itung-itung latihan jalan kaki jauh persiapan kalo bawa bunnies ke luar negeri (amiiinnn).

Ga disangka, ternyata bunnies seneng dan semangat banget bisa pergi jalan-jalan naik angkutan umum. 

Lalo: Sebenernya ini namanya bukan 'busway', Na. Karena busway itu artinya jalur bis.
(pinter nih dia...senyum)
Gue: Jadi namanya apa, dek?
Lalo: Namanya Trans Jakarta, jalurnya baru disebut busway. Jadi jangan sebut kita naik busway ya.

OK DEEEHH.... :)



Kali ini Mama ikutan kita pergi jalan-jalan. Beruntungnya di hari Sabtu ini lagi long weekend. Jadi ga terlalu banyak juga yang mau berpelesir naik 'busway' (hahahaha)

Sengaja kita pilih bis yang kosong, jadi bisa duduk di bagian paling belakang yang kursinya menghadap ke depan. Kenapa? Biar kita bisa memandang lebih luas aja sih sebenernya. 

Sampai di stasiun terakhir, Kota, kita turun. Karena ini juga kali pertama buat kita, jadi agak celingak-celinguk juga sih. hehehe..

Menuju ke Kota Tua, kita jalan lagi dan melewati beberapa museum. Ada museum Bank Indonesia, museum Bank Mandiri dan BNI. Tapi karena yang kelewatan pertama adalah museum Bank Indonesia, jadilah kita mampir ke museum tersebut.

Kakak Naya langsung keluarin buku museumnya, sibuk nyari ada ga di daftar tujuan museum yang bisa dituju. 

Masuknya gratis..alias ga bayar. Dengan segala bawaan tas, jaket, topi dan kantong lainnya yang harus dititipkan di pintu masuk, kita mulai menelusuri ruang pamer museum. 

Sedihnya karena anak SD jaman sekarang belum dapet pelajaran sejarah, sementara bunnies termasuk agak beda karena tertarik banget sama yang namanya sejarah, jadi begitu masuk aja kita sudah harus menjelaskan apa yang ada di dalam sana. 

Begitu masuk, kita disambut dengan display aneka kekayaan rempah-rempah Indonesia yang menjadi daya tarik bagi orang Eropa atau Jepang untuk mengambil hasil bumi yang kita miliki. Bunnies belum tau akan hal itu, jadi ya dijelasin dech asal muasal kenapa ada rempah-rempah di situ. 

Rupanya itu adalah asal muasal cerita dari adanya uang di Indonesia (dan mungkin belahan bumi lainnya ya).
Karena awalnya alat penukaran adalah dengan cara barter yang kemudian berkembang jadi uang sebagai alat tukar... mulailah sejarah perkembangan uang di Indonesia dan dunia.

Bunnies dapat banyak banget informasi tentang dulunya uang seperti apa, bentuknya seperti apa (koin, lembaran dan logam mulia) sampai sempat juga gue jelasin sewaktu Indonesia dilanda inflasi gila-gilaan (mudah-mudahan ga kejadian lagi... :() dan Indonesia memberlakukan menggunting uang agar harganya menjadi setengah dari jumlah yang tercetak di uang tersebut.

Ada yang bikin mereka nanya juga..
 Gagah: Buna, uangnya gede banget yaaaa! *takjub
 Gue: Iya, dek.. ini uang jaman dulu.
 Lalo: Trus mereka dompetnya pasti gede ya, Na!


Bangganya, ternyata jiwa nasionalis bunnies sudah mulai terbentuk. Di suatu ruangan ada display baju-baju prajurit bangsa penjajah (Jepang dan Belanda) yang bersanding dengan baju-baju prajurit Indonesia. Diajak berfoto di baju-baju tersebut, mereka justru memilih dengan tegas ingin berfoto di samping baju prajurit Indonesia... di situ saya merasa tersentuh karena bangga akan rasa nasionalisme mereka #proudmama. Sambil juga diliatin sama mbak-mbak dan mas-mas pengunjung lain karena mereka ngotot tetep mau fotonya di baju prajurit Indonesia.







 
Ga nyangka memang karena tiga anak saya ini hobi ke museum dan sangat tertarik dengan sejarah Indonesia. 

Bersambung ....


Komentar